z35W7z4v9z8w Langkah-Langkah Analisis Konflik
image1 image2 image3

Welcome To Demokrasi Style | Blog Artikel Ilmu Sosial Politik, Hukum dan Pemerintahan | Silahkan Klik "CONTINUE READING" Untuk Baca Artikel Selengkapnya|

Langkah-Langkah Analisis Konflik

Langkah-Langkah Analisis Konflik

Oleh: Prof. Dr. Aholiab Watloly
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Sosiologi Universitas Pattimura Ambon


Analisis Konflik
Prof. Dr. Aholiab Watloly (Kanan)
Langkah-langkah Analisis konflik adalah tahapan-tahapan yang harus ditempuh dalam melakukan analisis konflik atau potensi konflik, sehingga seluruh situasi yang dihadapi bisa terekam dengan baik untuk kemudian dianalisis secara sistimatik. Kesimpulan dari hasil analisis, semestinya menjelaskan 2 (dua) hal penting, yaitu gambaran utuh tentang anatomi konflik, dan tindakan intervensi (campur tangan) yang harus dilakukan untuk mengakhiri konflik atau mencegah konflik.


  • Langkah Pertama: Pemetaan Situasi Konflik dan Potensi Konflik


  • Pemetaan situasi konflik (konflik sudah terjadi) dilakukan untuk mencari tahu siapa-siapa pelaku konflik, apa faktor penyebabnya, kapan atau bilamana dan di mana konflik tersebut terjadi, berapa lama konflik sudah berlangsung, dan bagaimanakah dampak yang ditimbulkannya. Demikian halnya dengan pemetaan situasi potensi konflik (konflik belum terjadi). Data yang diperlukan ini bisa diperoleh melalui pengamatan dan wawancara dengan warga masyarakat yang diperkirakan mengetahui situasi konflik dimaksud.

    Pada langkah pertama ini, penting pula untuk mengidentifikasi (mengenali) siapa yang disebut sebagai provokator atau orang yang suka memanas-manasi situasi, dan cara apa yang digunakannya untuk memperkeruh atau mengadu-domba warga masyarakat baik antar individu maupun antar kelompok.


  • Langkah Kedua: Mendalami Situasi Konflik dan Potensi Konflik


  • Data yang telah diperoleh kemudian didalami baik melalui pengamatan dan wawancara ulang, maupun melalui diskusi dengan orang lain dalam rangka mendapatkan pendapat kedua (second opinion) mengenai situasi konflik tersebut.

    Dengan pendalaman terhadap situasi konflik atau potensi konflik, diharapkan akan diperoleh gambaran yang lebih utuh, sehingga dinamika (perkembangan) konflik yang terjadi atau potensi konflik yang mengancam bisa dipahami dengan lebih baik.

    Pada langkah kedua tersebut, perlu dilakukan pula kategorisasi konflik seperti konflik ini berada pada tingkat apa, bagaimana bentuk konflik yang terjadi, adakah kemungkinan meluasnya konflik, dan lain-lain yang dipandang perlu.

    Pendalaman terhadap situasi konflik atau potensi konflik, dapat dilakukan berulang-ulang hingga kita memperoleh cukup kepastian terkait dengan data yang disebutkan di atas.
    Sekali lagi, PENTING untuk mendalami cara kerja Provokator (jika ada).


  • Langkah Ketiga: Analisis Dengan Beberapa Pendekatan Tertentu


  • Analisis dengan beberapa pendekatan tertentu seperti yang akan diuraikan di bawah ini, selain dimaksudkan untuk mendapatkan pemahaman yang terpadu (komprehensif) dan menyatu (terintegrasi) tentang situasi konflik atau potensi konflik, juga diarahkan untuk menelusuri kearifan-kearifan lokal sebagai kekuatan yang bisa dimanfaatkan bagi proses penyelesaian masalah konflik atau mencegah terjadinya konflik.
    1. Analisa Budaya

      Analisa budaya adalah dengan mengkaji dan memahami konflik yang terjadi atau potensi konflik dari sudut pandang budaya, adat kebiasaan, bahasa, simbol-simbol, dan ungkapan-ungkapan yang dipergunakan oleh masyarakat lokal pada umumnya.

      Tujuannya:
      • Untuk memahami latar belakang konflik atau potensi konflik dari sudut pandang adat dan kebiasaan masyarakat.
      • Mengidentifikasi simbol dan kepercayaan masyarakat setempat yang bisa memicu konflik, sekaligus yang bisa dimanfaatkan untuk menciptakan perdamaian.
      • Mengkaji ulang simbol-simbol, kepercayaan, bahasa lokal serta ungkapan-ungkapan dan sistem kekerabatan yang berkaitan dengan perdamaian.

      Caranya:
      • Mengumpulkan data tentang kebiasaan, adat istiadat, simbol-simbol dan kepercayaan masyarakat.
      • Mengidentifikasi ungkapan-ungkapan lokal masyarakat dan sistem kekerabatan yang berkaitan dengan perdamaian.
      • Mengamati pergeseran budaya yang terjadi dalam masyarakat.

      Catatan: bagi “orang dalam” (mereka yang tinggal bersama-sama masyarakat), cara yang dikemukakan di atas tentu bukan merupakan hal yang asing lagi. Namun demikian, untuk kebutuhan tersebut, cara yang digunakan semata-mata untuk mendapatkan kepastian tentang pengetahuan yang dimilikinya terkait dengan kebiasaan, adat istiadat, simbol-simbol dan kepercayaan.

    2. Analisa Modal sosial

      Analisis modal sosial adalah dengan mengkaji dan memahami konflik atau potensi konflik dilihat dari sudut pandang pola hubungan yang terjadi dalam masyarakat, baik antar individu, kelompok atau dengan lingkungan sekitar.

      Tujuannya:
      1. Mengetahui pihak-pihak yang terlibat dalam konflik.
      2. Mengetahui potensi-potensi yang bisa memicu konflik sehingga bisa menimbulkan konflik besar.
      3. Mengetahui pihak-pihak yang bisa menciptakan perdamaian.
      4. Mengetahui jaringan-jaringan yang tersedia dan bisa digunakan untuk menciptakan perdamaian.

      Caranya:
      1. Mencari informasi pihak-pihak yang berkonflik.
      2. Mencari informasi tentang jejaring masing-masing pihak.
      3. Mencari informasi tentang bentuk-bentuk kegiatan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang berkonflik.
      4. Menanyakan keharmonisan pola hubungan pihak yang berkonflik.

    3. Analisa Sejarah

      Analisis sejarah digunakan untuk mengkaji konflik atau potensi konflik dari sudut pandang kronologi (urut-urutan peristiwa) suatu konflik terjadi.

      Tujuannya:
      1. Mengetahui kronologi kejadian konflik atau kejadian-kejadian di masa lalu sampai sekarang yang berhubungan dengan peristiwa konflik tertentu.
      2. Mengetahui pergeseran pola konflik yang terjadi pada masa lalu dan masa sekarang.
      3. Mengetahui pelaku yang terlibat konflik masa lalu dan masa sekarang.

      Caranya:
      1. Menanyakan rentetan cerita dan kejadian-kejadian di masa lalu yang berhubungan dengan peristiwa konflik tertentu.
      2. Menanyakan perbedaan yang ada antara pelaku konflik masa lalu dan masa sekarang.

    4. Analisa Ekonomi

      Analisis ekonomi dipergunakan untuk memahami mengapa sebuah situasi konflik terjadi atau potensi konflik timbul dilihat dari sudut pandang penguasaan dan akses terhadap sumberdaya ekonomi.

      Tujuannya:
      1. Mengetahui sumberdaya ekonomi yang diperebutkan, sehingga menimbulkan konflik atau potensial menimbulkan konflik.
      2. Mengetahui pelaku ekonomi yang terlibat konflik.
      3. Mengetahui bagaimana aspek ekonomi dapat dijadikan sebagai pintu masuk untuk menciptakan perdamaian.

      Caranya:
      1. Mendata sumber daya ekonomi yang dimiliki daerah setempat.
      2. Mengidentifikasi sumber-sumber ekonomi yang menimbulkan konflik.
      3. Mengidentifikasi siapa pelaku ekonomi yang terlibat konflik.
      4. Mengidentifikasi sumberdaya dan pelaku ekonomi yang dapat menciptakan perdamaian.

    5. Analisa politik

      Analisa politik dilakukan dengan mengkaji konflik atau potensi konflik dilihat dari faktor kepentingan dan kekuasaan yang terdapat di dalam masyarakat. Menganalisis bagaimana kepentingan dimaksud diperjuangkan dan bagaimana kekuasaan tersebut dipergunakan. Analisis politik dimaksudkan pula untuk mengkaji situasi politik nasional, termasuk dalamnya pergunjingan kekuasaan di pusat dan daerah yang secara determinan mempengaruhi kondisi masyarakat secara langsung. Analisis politik dimaksudkan pula untuk mengkaji ketidakpastian hukum, peranan lembaga-lembaga negara, serta ketidakjelasan atau ketidatransparanan pemerintah (negara) dalam menangani berbagai kejahatan, termasuk penanganan konflik di daerah konflik, serta upaya-upaya yang telah dilakukan oleh negara untuk memediasi perundingan damai, melakukan sosialisasi damai dan evaluasinya, serta melakukan fungsi arbitrasi atau perwasitas secara jujur, adil, dan benar dalam menyelesaikan konflik secara mendasar.
      1. Mengetahui peran pemerintah (negera) dalam melakukan resolisi dan manajemen konflik.
      2. Mengetahui keterlibatan kelompok-kelompok kepentingan dalam menciptakan konflik.
      3. Mengetahui pola-pola hubungan yang dibentuk oleh kelompok- kelompok kepentingan.
      4. Mengetahui kelompok-kelompok kepentingan sebagai pelaku konflik atau pencipta kedamaian.
      5. Mengetahui kelompok-kelompok yang paling berpangaruh dalam menentukan kebijakan dalam masyarakat.
      6. Mengetahui peran Pemerintah Negeri/Desa dalam menentukan kebijakan pemerintah.

      Caranya:
      1. Mengidentifikasi situasi politik nasional yang mempengaruhi kondisi kemananan masyarakat secara lokal.
      2. Mengidentifikasi peran pemerintah (negara) dalam menangani konflik di daerah konflik.
      3. Mengidentifikasi kelompok-kelompok kepentingan di dalam masyarakat setempat dan peranannya dalam menentukan kebijakan di dalam masyarakat itu sendiri.
      4. Mengidentifikasi pola kepemimpinan yang diterapkan di dalam masyarakat.
      5. Mengelompokkan aktor-aktor yang terlibat dalam kelompok kepentingan.
      6. Mengidentifikasi proses pengambilan keputusan yang terjadi dalam masyarakat setempat.

    6. Analisis Pendidikan.

      Analisis pendidikan dilakukan untuk memahami sejauh mana faktor pendidikan seseorang atau anggota masyarakat berpengaruh terhadap keterlibatannya di dalam konflik maupun pencegahan dan penyelesaian konflik.

      Tujuannya:
      1. Mengetahui tingkat pendidikan seseorang atau anggota masyarakat, baik yang terlibat di dalam konflik mapun di dalam pencegahan dan penyelesaian konflik.
      2. Mengetahui sejauh mana pengaruh tingkat pendidikan seseorang atau anggota masyarakat di dalam membangun ketahanan diri terhadap isyu, provokasi, atau hasutan yang memicu konflik.
      3. Mengetahui sejauhmana pengaruh tingkat pendidikan seseorang atau anggota masyarakat dalam mencegah dan menyelesaikan konflik.

      Caranya:
      1. Mengidentifikasi tingkat pendidikan seseorang atau anggota masyarakat yang terlibat dalam konflik.
      2. Mengidentifikasi posisi dan peranan seseorang atau anggota masyarakat yang terlibat dalam konflik, menurut tingkat pendidikannya.
      3. Mengidentifikasi tingkat pendidikan seseorang atau kelompok-kelompok yang paling berpengaruh di dalam menggerakkan konflik.
      4. Mengidentifikasi tingkat pendidikan seseorang atau kelompok-kelompok yang paling dominan sebagai “kaki tangan” konflik di lapangan.

    7. Analisis Pekerjaan

      Analisis pekerjaan dilakukan untuk memahami sejauh mana status pekerjaan seseorang atau anggota masyarakat, berpengaruh terhadap keterlibatannya di dalam konflik maupun dalam pencegahan atau penyelesaian konflik.

      Tujuannya:
      1. Mengetahui status pekerjaan seseorang atau anggota masyarakat, baik yang terlibat di dalam konflik maupun dalam pencegahan dan penyelesaian konflik.
      2. Mengetahui sejauh mana pengaruh status pekerjaan seseorang atau anggota masyarakat yang terlibat di dalam membangun ketahanan diri maupun masyarakat terhadap isyu, provokasi, atau hasutan yang memicu konflik.
      3. Mengetahui status pekerjaan seseorang atau anggota masyarakat yang terlibat dalam mencegah dan menyelesaikan konflik.

      Caranya:
      1. Mengidentifikasi status pekerjaan seseorang atau anggota masyarakat yang terlibat dalam konflik.
      2. Mengidentifikasi posisi dan peranan seseorang atau anggota masyarakat yang terlibat dalam konflik, menurut status pekerjaannya.
      3. Mengidentifikasi status pekerjaan seseorang atau anggota masyarakat yang paling berpengaruh di dalam membangun ketahanan diri dan masyarakat dari isyu, provokasi, dan hasutan yang memicu konflik.
      4. Mengidentifikasi status pekerjaan seseorang atau anggota masyarakat yang paling berpengaruh dalam menggerakkan konflik.
      5. Mengidentifikasi satus pekerjaan seseorang atau anggota masyarakat yang paling dominan sebagai “kaki tangan” konflik di lapangan.

    8. Analisa Gender

      Analisis gender adalah analisis yang bertujuan untuk mengetahui tentang konflik atau potensi konflik dilihat dari keterlibatan perempuan dalam konflik dan atau yang ikut menyelesaikan konflik.

      Tujuannya:
      1. Mengetahui peran perempuan dalam menciptakan konflik, ikut menyelesaikan konflik atau sebagai korban dari konflik.
      2. Mengetahui keterlibatan perempuan dalam konflik tersebut.
      3. Mengetahui pola patriarkhi (kekuasaan menurut garis laki-laki) yang terjadi dalam masyarakat yang cenderung membuat konflik gender.

      Caranya:
      1. Melakukan wawancara dengan perempuan tentang perannya dalam menciptakan konflik, korban konflik atau menciptakan perdamaian.
      2. Mengidentifikasi keterlibatan perempuan dalam konflik dan yang potensial menciptakan perdamaian.
      3. Menanyakan pandangan antara perempuan dan laki-laki dalam menghadapi konflik.



  • Langkah Keempat: Mengambil Keputusan


  • Setelah kita mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang situasi konflik, serta memahami dinamika konflik dan kemungkinan memanfaatkan kekuatan-kekuatan yang ada di dalam masyarakat untuk menyelesaikan atau mencegah konflik, maka tibalah saatnya bagi pengambilan keputusan.

    Keputusan yang diambil ini meliputi beberapa aspek sebagai berikut:
    1. Konteks Penyelesaian Konflik (konflik sudah terjadi)

      1. siapakah yang akan terlibat dalam penyelesaian konflik, kapan dimulai, darimana harus dimulai, bagaimana proses yang akan dilakukan.

        Catatan: proses dialogis merupakan cara yang sering dipandang efektif dalam penyelesaian konflik.
      2. adakah pihak-pihak lain yang dirasakan penting untuk dihubungi dalam rangka membantu penyelesaian konflik.
      3. perlukah disediakan sejumlah alternatif butir-butir kesepakatan untuk ditawarkan kepada pihak-pihak yang berkonflik. Bagian ini dapat merupakan kelanjutan dari proses dialogis yang sudah dilakukan, di mana rancangan butir-butir kesepakatan lebih dititik-beratkan pada aspek kesamaan pandang di antara mereka yang terlibat konflik.
      4. bagaimana upaya-upaya untuk memelihara kesepakatan yang sudah dicapai.

    2. Konteks Pencegahan Konflik (konflik belum terjadi)

      1. siapakah yang dapat diajak terlibat dalam membantu upaya pencegahan konflik, kapan dimulai, darimana harus dimulai, bagaimana cara yang akan digunakan.

        Catatan: netralisasi gosip (isyu) atau melakukan klarifikasi merupakan cara yang cukup efektif untuk dipertimbangkan sebagai langkah awal.
      2. adakah pihak-pihak lainnya yang dirasakan perlu diajak bicara untuk membantu memperkuat proses atau upaya pencegahan konflik.
      3. perlukah disediakan sejumlah alternatif sebagai kompensasi kepada pihak-pihak yang potensial berkonflik.

        Catatan: kompensasi seringkali ditempuh kepada pihak-pihak yang potensial berkonflik dengan maksud agar rasa benci, rasa dendam, atau perasaan negatif lainnya dapat diminimalisasi.


    Dapatkan Buku-Buku Prof. Dr. Aholiab Watloly di Toko Buku Terdekat:

    Analisis Konflik
    Cover Salah Satu Buku Karya Cipta Prof. Dr. Aholiab Watloly


    Preview
    Lingkungan Fisik Pemerintahan
    Demokrasi dan Lingkungan Pemerintahan



    Ilmu Sosial, Ilmu Politik, Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Hukum - Demokrasi Style
    Link exchanges
    top blogs
    top blogs

    Copyrighted.com Registered & Protected  Q8QL-MQFB-FI1B-MGBT

    Supardin Waly
    AUTHOR DEMOKRASI STYLE

    Nama saya Supardin Waly, Alumni FISIP UNPATTI Ambon, Saya berasal dari Masohi - Maluku Tengah.

    Share this:

    IKLAN SHOPING ONLINE

    PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork